Link Banner

Protokol Kesehatan Paceklik Culture Festival Di Masa Pageblug

Dimasa wabah ini kegotongroyongan harus kita bangun dalam menjalankan segala aktivitas. Sebagaimana Paceklik Culture Festival selama ini berkordinasi dengan segala lapisan masyarakat. Bahkan dalam acara tahun ini pun, kami telah membangun kesadara bagi masyarakat tentang protokol kesehatan. Praktik membangun kesadaran ini, kami kampanyekan dengan berbagai cara, pembagian masker, sanitizer, dan penyuluhan hidup sehat bagi komunitas-komunitas seni Se-Kecamatan Panggang. Tentunya kegiatan ini, kami selalu kordinasi dengan Polsek Panggang  dalam menjalankan protokol kesehatan.

Sudah sekira masyarakat saling membantu dalam menjalankan kehidupan baru ini. Setengah tahun lamanya pandemik virus Covid-19 atau dikenal juga dengan “Corona” mengubah seluruh tatanan kehidupan masyarakat dunia, tak terkecuali Indonesia. Hampir semua sektor kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya perekonomian tengah lumpuh, dapat dikatakan jalan jongkok bahkan merayap. Sektor swasta di bidang industri produksi dan perdagangan, terpukul berat akibat wabah virus satu ini. Di samping itu, yang juga sangat terimbas dengan berat adalah mereka di sektor informal: masyarakat ekonomi kelas bawah seperti buruh harian lepas, pedagang kecil, dan seniman, benar-benar kehilangan mata pencaharian. 

Enam bulan ini jalannya kehidupan terutama roda perekonomian masyarakat dirasa teramat berat dijalani. Para seniman, yang rata-rata menggantungkan putaran roda perekonomian dari aktivitas kebudayaan seni (ritual-profan) dalam berbagai helatan perayaan sosio-budaya masyarakat baik desa maupun perkotaan, praktis jatuh dan tiarap. Berbagai helatan seni budaya yang seyogyanya terjadwal sejak Maret hingga akhir taun 2020 mengalami perubahan total, bahkan dibatalkan. 

Keadaan yang tidak kunjung membaik selama berbulan-bulan yang dirasakan oleh para seniman maupun aktivis budaya di desa dan perkotaan khususnya wilayah DIY, di satu dua kelompok masyarakat menimbulkan gejolak dan “perlawanan”. Kebijakan pemerintah yang terkesan ragu sejak awal pandemik merebak, keputusan pembatasan ruang gerak aktivitas, direspon dengan berbagai tindakan “protes”. Di antaranya seperti yang dilakukan oleh beberapa kelompok seniman Kabupaten Boyolali, Kota Surakarta, Kabupaten Sragen, Klaten, dan seniman Jawa Tengah yang meminta pemerintah memberi kelonggaran bagi aktivitas seni dan budaya. Dalam berbagai kesempatan mereka juga mengungkapkan opini melalui sosial media, berharap aktivitas seni budaya kembali diperbolehkan yang akan sangat berimbas membantu bergeliatnya kembali roda perekonomian para seniman.

Rupa-rupanya pemerintah pusat yang juga sadar bahaya resesi karena macetnya perekonomian, berusaha dengan kebijakan “new normal” atau jika dibahasakan ulang sebagai adaptasi kebiasaan hidup baru, memberikan peluang tuntutan beberapa pihak untuk kelonggaran pelaksanaan aktivitas dan ruang seni budaya. Di antaranya dengan mengadakan dan membolehkan adanya pelaksanaan helaran seni budaya dengan ruang lingkup terbatas, serta memperhatikan SOP atau protokol kesehatan. Rupa-rupanya telah banyak pula seniman dan akademisi yang mendiskusikan mengenai hal tersebut. Bukan tuntutan agar dibolehkan pentas dalam helaran seni budaya, namun idealnya adalah mendialogkan kembali bagaimana protokol kesehatan yang tepat diterapkan dalam suasana adaptasi kebiasaan hidup baru untuk helaran seni budaya-lah yang perlu segera dirumuskan.

Paceklik Culture Festival yang diselenggarakan oleh Komunitas Sekar Nyentrik dari Girisekar, Panggang, Gunungkidul tahun ini bergulir untuk yang kedua kalinya. Dalam rangka mewujudkan misi menciptakan ruangruang dan aktivitas seni budaya bagi masyarakat pinggiran pedesaan di Gunungkidul, Komunitas Sekar Nyentrik juga berkontribusi untuk merealisasikan kampanye protokol kesehatan yang tepat bagi helaran seni budaya. Helaran ini tidak mungkin ditunda bahkan dibatalkan, dengan pertimbangan selain telah terjadwalkan dalam anggaran pemerintah melalui program Fasilitasi Bantuan Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, juga menyikapi keriskanan “paceklik budaya” di masyarakat jika masa pageblug sangat panjang. Jika masyarakat dibiarkan terlalu lama tidak beraktivitas kebudayaan melalui seni, adat, dan tradisi, maka persoalan formalisme agama, separatisme, dan instabilitas nasional melalui kegoyahan nasionalisme menjadi sebuah ancaman yang dapat mungkin terjadi akibat “kekosongan” dan kejenuhan masa pandemik.

Kerawanan tersebut yang salah satunya akan dapat diminimalisir dengan helaran budaya, seperti Paceklik Festival Culture  yang akan berlangsung dalam hitungan beberapa hari kedepan. Maka, protokol kesehatan bagi para aktivis, pegiat, serta masyarakat apresiator kegiatan ini perlu dipikirkan dan dipersiapkan dengan baik. Dengan demikian, tulisan ini ingin menawarkan tindakan solutif komunitas Sekar Nyentrik, menyikapi terselenggaranya helaran budaya Paceklik Culture Festival II dengan tatanan protokol kesehatan. Di antaranya adalah, sebagai berikut:

Konsep pertunjukan dengan format daring, melalui perekaman terlebih dahulu kemudian diunggah website, maupun pertunjukan dengan cara live streaming.

Pembatasan jumlah kru yang bekerja.

Pembatasan jumlah personil aktivis dan pegiat yang terlibat dalam helaran.

Menyediakan peralatan sesuai SOP/protokoler kesehatan seperti: tempat cuci tangan, pasokan air mengalir, sabun cair untuk cuci tangan, di setiap tempat helaran.

Menyediakan masker penutup hidung dan mulut serta faceshield.

Pembatasan interaksi hand to hand.

Makan minum kemasan.

Pembatasan jarak duduk bagi peserta/ aktivis/ dan apresiator.

Pemilihan makanan dan minuman bersih dan menyehatkan.

Keberhasilan dan keamanan kesehatan seluruh yang terlibat, dan terjaganya kesehatan masyarakat secara umum dari paparan virus covid-19 agaknya memang sangat bergantung kepada kesadaran masyarakat untuk benar-benar memahami bahaya yang ditimbulkan, namun juga kesadaran mengenai pentingnya memahami diri untuk saling menjaga orang sekitar dengan menerapkan protokoler kesehatan sebagai bagian dari adaptasi kebiasaan kehidupan baru. Dengan demikian, tatanan dan metode pelaksanaan helaran budaya dan segala aktivitas apresasinya dituntut ikut aktif merespon dan meletakkan standard protokoler kesehatan sebagai pendukung kesuksesan serta bagian dari penguatan (baru) kebudayaan nasional. Dengan demikian, berbagai aktivitas kebudayaan di masyarakat akan sangat mungkin tetap dilakukan dengan jaminan mutu keselamatan dan kesehatan. Sebagai puncaknya, keriskanan/kerawanan potensi “gangguan” stabilitas nasional melalui merebaknya gerakan formalisme berkaitan dengan SARA, separatisme, tetap dapat sangat diminimalisir/ dihindari. Toleransi dan kebhinekaan dalam persatuan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam naungan Pancasila tetap terjaga dan terwujudkan. Salam Budaya... Rahayu... Merdeka!!


Hariyanto 

Kurator Paceklik Culture Festival

Posting Komentar

0 Komentar