Desa Budaya Tanpa Simbol Budaya - Warta Handayani

PANGGANG,(WH)-Kehadiran desa budaya di Gunungkidul menjadi pusat budaya dan peradaban budaya. Tidak heran desa budaya ini menjadi ajang kegiatan untuk mempertunjukan adat istiadat yang masih bertahan di daerah masing-masing. Bahkan setiap event festival desa budaya, mereka mempertunjukan ciri khas dan produk unggulannya. Tidak hanya itu, pemerintah provinsi pun memberikan pendamping budaya untuk memajukan kebudayaan di daerahnya.

Kebijakan pemerintah untuk memajukan budaya di tengah masyarakat untuk saat ini sangat membantu. Bahkan kebijakannya pun bisa menjembatani antara komunitas budaya, pengurus budaya, dan desa budaya untuk memajukan budayanya. Tidak hanya itu Desa Budaya pun diberikan lahan pertunjukan untuk mengisi acara event-event pertunjukan provinsi maupun kabupaten. Tapi, kami selaku komunitas dan masyarakat seni membutuhkan event atau pertunjukan yang berkonsep dari “masyarakat untuk masyarakat”. Tujuan yang paling besar dalam konsep ini, kami selaku komunitas hanya ingin membangun simbol budaya atau perayaan budaya di tengah masyarakat.


Identitas Desa budaya dan simbol budaya salah satu unsur yang harus kita jalanin bersama. “Identitas Desa budaya tanpa kegiatan budaya” sama halnya “identitas seniman tidak mempunyai karya seni’. Dengan membagun simbol budaya, diharapkan Desa budaya ini mempunyai identitas yang sebenernya. Maka dari itu, kami selaku komunitas Sekar Nyentrik: Ruang Kreatif Masyarakat Seni Gunungkidul, dan Komunitas Malem Setu berkerjasama membangun simbol budaya lewat kegiatan bernamakan Paceklik Culture Festival.

Paceklik Culture Festival ialah kegiatan yang akan adakan di Mendak, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul pada tanggal 4-6 Oktober 2019. Kegiatan ini diantaranya: Ruang wacana dan ruang pertunjukan, pada ruang wacana ini kami akan memberikan lahan bagi masyarakat seni untu berdiskusi “persoalan budaya dan paceklik budaya, yang akan di pandu oleh budayawan Indonesia dan tokoh budayawan daerah diantaranya: Dr. Gregorius Budi Subanar, S.J (Budayawan Indonesia dan Direktur Pasca Sarjana Universitas Sanata Dharma), dan Cb. Supriatna (Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul). Sedangkan ruang pertunjukan akan dimeriahkan oleh berbagai komunitas seni dan masyarakat padukuhan Mendak. Bahkan penutupan acara ini akan di meriahkan oleh pementasan wayang kolaborasi antara wayang golek dan wayang kulit dengan dalang Ki. Hariyanto,S.Sn., M.Hum.

Harapannya acara ini, bisa memberikan lahan pertunjukan bagi komunitas-komunitas seni yang tidak mempunyai ruang. Bahkan tujuan acara ini ingin membangun masyarakat tentang kesadaran wisata, sadar budaya dan membangun masyarakat seni dalam kehiduapan sosial.(Wawan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here