Cerita tentang perjuangan Fendi ini viral di media sosial dan menyentuh hati banyak orang. Bocah tersebut diketahui terpaksa berhenti sekolah saat masih duduk di bangku SD kelas 1. Seharusnya, saat ini ia sudah berada di kelas 3 SD, namun keadaan keluarga memaksanya untuk mengorbankan pendidikan demi merawat orang tuanya.
Kondisi keluarga Fendi memang sangat memprihatinkan. Ibunya, Siaminah (46), kini hanya bisa terbaring lemah di tempat tidur. Kondisi kesehatannya membuat ia tidak mampu lagi melakukan aktivitas sehari-hari seperti dulu.
Sementara itu, sang ayah, Slamet (54), juga tengah berjuang melawan penyakit saraf yang dideritanya. Penyakit tersebut membuat tubuhnya kaku dan sulit digerakkan. Untuk berjalan pun ia harus tertatih-tatih dan sebagian besar waktunya dihabiskan di tempat tidur.
Pasangan Slamet dan Siaminah memiliki tiga orang anak. Anak pertama saat ini bekerja di Yogyakarta untuk membantu perekonomian keluarga. Anak kedua masih duduk di bangku SMP kelas 1.
Namun beban paling berat justru dipikul oleh Fendi, anak bungsu dalam keluarga tersebut. Demi merawat kedua orang tuanya yang sakit, ia rela meninggalkan bangku sekolah. Setiap hari Fendi harus membantu mengurus rumah, memasak, hingga merawat ayah dan ibunya.
Suasana rumah yang dihuni keluarga itu pun terasa jauh berbeda dari rumah pada umumnya. Tidak ada lagi keceriaan anak kecil yang bermain bebas, melainkan perjuangan seorang bocah yang berusaha tegar menghadapi kenyataan hidup.
Kepala Dukuh Jeruken, Winarsih, mengatakan pemerintah kalurahan sebenarnya telah berupaya membantu keluarga tersebut semaksimal mungkin melalui berbagai program bantuan sosial.
“Kami dari pemerintah kalurahan sudah berupaya semaksimal mungkin membantu keluarga Pak Slamet. Dari pemerintah, keluarga beliau menjadi salah satu prioritas dalam program bantuan,” ujar Winarsih.
Ia menjelaskan, saat ini pihak kalurahan juga sedang berupaya memperjuangkan agar Fendi dapat kembali mengenyam pendidikan seperti anak-anak lainnya. Selain itu, keluarga tersebut juga membutuhkan pendampingan khusus terkait kondisi kesehatan kedua orang tuanya.
“Saat ini kami masih menunggu bantuan pendampingan kesehatan untuk kedua orang tua Fendi. Kami juga terus berupaya agar Fendi bisa kembali sekolah,” jelasnya.
Winarsih menambahkan, pihaknya tidak menutup diri bagi siapa saja yang ingin membantu keluarga tersebut. Justru dukungan dari berbagai pihak sangat diharapkan agar beban keluarga tersebut dapat sedikit teringankan.
“Kami sangat berterima kasih kepada semua pihak yang sudah membantu warga kami. Bagi siapa saja yang ingin membantu keluarga Pak Slamet, tentu kami sangat terbuka dan berterima kasih,” pungkasnya.
Kisah Fendi menjadi pengingat bahwa di balik kehidupan sederhana di pelosok desa, masih ada anak-anak yang harus mengorbankan masa kecilnya demi merawat orang tua yang mereka cintai. Harapan besar pun muncul agar kepedulian banyak pihak dapat membantu Fendi kembali meraih masa depan melalui pendidikan.




0 Komentar