Paceklik Culture Festival lll Sarasehan Budaya "Jamunya Rakyat Kecil" Andum Slamet

GUNUNGKIDUL (Wartahandayani.com)_Ketika selesai melakukan pertemuan dengan sesorang kemudian berpamitan, andum slamet seringkali diucapkan menandai akhir perjumpaan atau perpisahan. Andum dapat diartikan berbagi, sementara slamet tentu saja dimaknai sebagai keselamatan. Sehingga andum slamet, dimaknai sebagai berbagi, membagi, harapan bersama mengenai keselamatan, baik itu perjalanan maupun rencana atau niat yang masing-masing pihak akan melakoni. 

Ketika pandemik covid-19 melanda tanah air, tentu saja semua terintimidasi rasa takut, khawatir, 
bingung, kalut, susah, dan segenap rasa keraguan. Namun demikian, di balik riuh rendah 
suasana tintrim yang melanda, masih ada cercah-cercah harapan bergumpal bergulungan mewaktu mendambakan keselamatan. 
Sayangnya, dambaan mengenai harapan keselamatan dari bahaya covid-19 yang telah melibas habis harapan di berbagai sektor khususnya ekonomi kerakyatan tersebut, dewasa kini patut dipertanyakan kembali. 

Andum slamet, tidak hanya harapan yang berhenti pada ucapan 
maupun sapaan batin. Andum slamet adalah tuturan performatif yang ketika diucapkan secara 
sekaligus energi ucapan tersebut adalah upaya dan tindakan mengupayakan keselamatan itu 
hadir. Sebagian masyarakat entah karena kejenuhan dan rasa muak atas intimidasi dan kesimpangsiuran kabar serta perekonomian yang terus melesu menyebabkan abai kembali pada 
keselamatan baik keselamatan diri maupun keluarga dan masyarakat yang lebih luas. 

Sebagian masyarakat kini apatis, bahkan melalaikan andum keslametan dengan tidak lagi mengindahkan 
anjuran protokol kesehatan 5M yang gencar disosialisasikan pemerintah.
Andum slamet, sebagai tuturan performatif kemudian tidak lagi hanya dimaknai sebagai 
terjemahan literer berbagi keselamatan. Niscayanya andum slamet merujuk pada upaya 
bersama menggalang kerja dan relasi sosial untuk membagikan, membuat, dan menggalang 
kinerja sosial agar keselamatan dapat terwujud. 

Di tengah suasana yang penuh dengan kejenuhan inilah, masyarakat yang secara ekonomi, sosial, budaya, sangat terdampak 
pandemik covid-19, perlu diraih kembali kepercayaan diri mereka mengupayakan keselamatan 
melalui andum slamet yang juga akan dimaknai sebagai andum kabahagyan (berbagi kebahagiaan) melalui sebuah sosialisasi yang tidak intimidatif melalui bahasa-bahasa medis atau bahasa ilmiah yang memiliki kecenderungan dieksploitasi dan seterusnya.

 Masyarakat membutuhkan sebuah tindakan yang mampu nggugah rasa, dengan pendekatan yang sangat tradisional dan lokal. Seperti halnya padasan, yang ada di setiap rumah dengan ramah menyapa 
dan mengajak setiap yang datang tergugah rasanya untuk mengupayakan keselamatan melalui reresik dan sesuci, baik dari kotoran fisik maupun makna lain di baliknya, dijauhkan dari sawan
dan walang sangker yang mungkin hinggap ketika berada di luar rumah atau selama perjalanan.

Komunitas Sekar Nyentrik kali ini ingin membagikan harapan keselamatan, andum slamet dan andum kabahagyan melalui gerakan sosial masyarakat desa di pegunungan yang mengangkat kearifan lokal: kesederhanaan, dan keberserahan diri kepada Tuhan yang dibangun melalui optimisme. Untuk membangun kepercayaan diri kembali itulah, gerakan nggugah rasa diwujudkan melalui sarasehan, diskusi, kesenian, dan do’a lintas agama, melalui jalur kebudayaan yang lokal dan tradisional.

Wawan ( Sanggar Sekar Nyentrik) 

Posting Komentar

0 Komentar