Link Banner

Selamatkan Pemilih Pemula dari Politik Praktis, Begini Langkah Bawaslu

Komisi Pemilihan Umum memastikan jumlah pemilih pemula pada daftar pemilih sementara berkisaran 3,28% dari total keseluruhan. Artinya dari jumlah DPS 600.825 jiwa, sekitar 19.731nya ialah pemilih pemula. 

Untuk menjaga para pemilih pemula terlibat politik praktis, balai pendidikan mengakui cukup kesulitan karena kondisi pandemi covid19 ini yang belum memungkinkan untuk kegiatan tatap muka dalam KBM. Sehingga pendidikan politik bagi para siswa belum bisa sepenuhnya dilakukan.

"Untuk pendidikan politik ini memang cukup sulit diterapkan tanpa pertemuan dengan siswa," jelas Sangkin, Senin (21/9).

Ia mengatakan, selain Pembelajaran Jarak Jauh, siswa-siswi belum bisa mengikuti kegiatan lainnya. Pun dengan PJJ dinilai belum efektif untuk sekedar berkegiatan belajar mengajar.

"Untuk pelajaran saja belum maksimal, misalnya untuk siswa siswi SMK belum bisa praktek, apalagi untuk kegiatan lainnya," tutur Sangkin.

Sejauh ini, pihak Balai Dikmen hanya mengimbau kepada guru khususnya yang berstatus ASN untuk netral. Ia juga akan terus melakukan pengawasan kepada jajarannya pada masa Pilkada ini.

"Kami selalu tekankan kepada kepala sekolah, untuk mengawasi dan mengingatkan bahwa ASN harus netral," ucap Sangkin.

Sejauh ini, Sangkin menilai kondisi siswa-siswi pemilih masih adem ayem. Ia mengakui tidak ada pemantauan khusus di lingkungan balai dikmen. 

"Masih ayem, belum ada pemantauan khusus," tutur dia.

Senada dengan Sangkin, Kepala SMKN 2 Wonosari, Ahmad Darmadi juga merasa kesulitan memberikan pengawasan terhadap para siswa pada proses politik Pikada tahun ini. Adanya covid19 yang membuat proses pembelajaran tersendat akhirnya pertemuan dalam rangka mendampingi siswa-siswinya pun tak bisa dilakukan.

"Secara umum hanya guru pelajaran PPKn yang akan memberikan penjelasan terkait dengan Pendidikan Politk," imbuh dia.

Pada periode sebelumnya, sejumlah kegiatan digagas Bawaslu Gunungkidul yang bekerjasama dengan sekolah dalam menyiapkan pemilihan umum maupun pilkada. Kemudian untuk implementasinya Bawaslu akan secara langsung berinteraksi dengan para siswa-siswi.

"Biasanya Bawaslu langsung bertemu anak-anak untuk pembentukan kader, dan lain sebagainya," ujar Ahmad.

Terpisah, Komisioner Bawaslu Gunungkidul, Rosita mengatakan, pengawasan bagi pemilih pemula memang lebih rumit tahun ini. Utamanya karena kegiatan belajar mengajar masih di dalam jaringan.

"Kalau biasanta kami roadshow dari sekolah ke sekolah untuk melakukan sosialisasi, tapi karena pandemi ini kami buat rancangan baru," imbuh dia.

Sejauh inu pihaknya menyiapkan tiga strategi. Ketiganya yaknkkoordinasi dengan pihak sekolah untuk memastikan sambungan internet untuk interaksi dalam jaringan, kemudian para pemilih pemula yang notabennya masih duduk di bamgku sekolah ini diahak untuk melakukan pengawasan partisipatif sebagai relawan pemilih pemula dan juga sekolah akan menjadi kader pengawasan pemilih pemula.

"Meskipun nanti komunikasi lewat daring, tapi kami optimis ini akan membantu memberi pencerahan bagi pemilih pemula," tutup Rosita.



Posting Komentar

0 Komentar