Kegiatan tahunan ini menjadi wujud rasa syukur masyarakat atas anugerah sumber mata air yang telah dimanfaatkan warga sejak zaman dahulu. Selain melestarikan tradisi leluhur, kegiatan tersebut juga menjadi bentuk kepedulian terhadap kebersihan lingkungan serta upaya mempererat kerukunan antarwarga.
Sejak pagi, puluhan warga bergotong royong membersihkan kawasan belik dan lingkungan di sekitar pohon beringin. Mereka memunguti sampah, membersihkan ranting, serta menyapu dedaunan kering yang berserakan di sekitar sumber mata air.
Ketua RW Padukuhan Sumbermulyo, Budiyono, mengatakan bahwa tradisi bersih belik merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia sumber air yang diberikan kepada masyarakat Kalurahan Kepek, khususnya warga Padukuhan Sumbermulyo.
Menurutnya, sumber mata air yang berada tepat di bawah pohon beringin tersebut memiliki nilai penting bagi kehidupan masyarakat. Jauh sebelum layanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) tersedia seperti sekarang, sumber air itu telah menjadi salah satu andalan warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Bersih belik ini merupakan wujud rasa syukur kami kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah sumber air yang diberikan kepada masyarakat. Sumber ini sudah dimanfaatkan warga sejak zaman dahulu hingga sekarang,” ujar Budiyono.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut bukan sekadar membersihkan lingkungan, melainkan juga menjadi pengingat bagi masyarakat untuk senantiasa menjaga dan merawat alam yang telah memberikan manfaat bagi kehidupan.
Selain aksi gotong royong, warga juga menggelar kenduri dan doa bersama untuk memohon keselamatan, kesejahteraan, serta keberkahan bagi seluruh masyarakat.
Salah satu prosesi yang menjadi bagian dari tradisi bersih belik tersebut adalah serabi kocor yang dilakukan oleh Lurah Kepek, Bambang Setyawan.
Prosesi ini memiliki makna simbolis berupa harapan agar hujan turun dan mengalirkan berkah bagi masyarakat, terutama untuk mendukung kebutuhan air pertanian dan berbagai keperluan lainnya.
“Prosesi serabi kocor itu simbolis saja, yang bermakna kucuran air hujan yang membasahi dan mengairi masyarakat Kalurahan Kepek untuk pertanian dan yang lain-lain,” kata Budiyono.
Setelah rangkaian kenduri dan doa bersama selesai, kegiatan dilanjutkan dengan kembul bujana atau makan bersama. Warga, para peserta gotong royong, serta pamong kalurahan yang hadir menikmati aneka jajanan pasar dan nasi ingkung yang sebelumnya telah didoakan bersama.
Suasana kebersamaan tampak mewarnai kegiatan tersebut. Warga duduk bersama tanpa membedakan latar belakang, menikmati hidangan sekaligus mempererat hubungan sosial di lingkungan masyarakat.
Lurah Kepek, Bambang Setyawan, menyampaikan bahwa kegiatan bersih belik tersebut telah dilaksanakan puluhan kali dan secara rutin digelar setiap tahun sebagai bentuk rasa syukur atas keberadaan sumber mata air di wilayah Kalurahan Kepek.
Ia menegaskan, sumber mata air Bangjo Pancoran memiliki nilai historis sekaligus manfaat besar bagi masyarakat. Keberadaannya menjadi bagian dari perjalanan kehidupan warga sebelum tersedianya layanan air bersih melalui jaringan PDAM.
Bambang pun menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang secara konsisten menjaga tradisi tersebut. Menurutnya, kepedulian warga untuk membersihkan lingkungan sumber mata air merupakan langkah penting dalam mempertahankan kelestarian sumber air bagi generasi mendatang.
“Air adalah sumber kehidupan kita semua. Terima kasih juga karena masyarakat menjaga sumber air ini dengan menjaga kebersihan lingkungan sumber air,” ungkap Bambang yang akrab disapa Mbah Lurah.
Ia berharap, tradisi bersih belik tidak hanya dipertahankan sebagai kegiatan adat tahunan, tetapi juga menjadi sarana menumbuhkan kesadaran bersama tentang pentingnya menjaga lingkungan dan sumber daya air.
Selain memiliki makna spiritual dan lingkungan, kegiatan ini juga menjadi ruang untuk menyambung silaturahmi. Semangat gotong royong sejak proses pembersihan hingga makan bersama diharapkan mampu memperkuat kerukunan serta keakraban antarwarga.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, masyarakat memasang kain putih pada pohon beringin yang tumbuh di kawasan sumber mata air tersebut. Pohon beringin itu menjadi bagian penting dari identitas Bangjo Pancoran sekaligus simbol yang lekat dengan tradisi masyarakat setempat.


0 Komentar