Susilo Nugroho mengembuskan napas terakhir di kediamannya di Jalan Cuwiri, Mantrijeron, Kota Yogyakarta. Selanjutnya, jenazah Susilo Nugroho dibawa ke RS Bethesda Yogyakarta untuk menjalani proses penyucian.
Kepergian Susilo menjadi kehilangan besar bagi dunia seni pertunjukan, khususnya di Yogyakarta. Sosoknya selama ini dikenal tidak hanya sebagai aktor dan pelawak, tetapi juga sebagai seniman teater, ketoprak, pemain sinetron, presenter hingga moderator.
Susilo Nugroho lahir di Yogyakarta pada 5 Januari 1959. Di luar aktivitasnya sebagai seniman, ia juga menjalani profesi sebagai guru di SMKN 1 Bantul.
Nama Den Baguse Ngarsa kemudian melekat kuat pada sosok Susilo setelah karakter tersebut populer melalui program Mbangun Desa di TVRI Yogyakarta.
Karakter priyayi dengan gaya bicara khas, ceplas-ceplos dan penuh humor itu menjadi salah satu identitas yang membuat Susilo begitu dikenal masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya.
Di dunia teater, Susilo merupakan salah satu sosok penting dalam perjalanan Teater Gandrik. Sebelum bergabung dengan Gandrik, ia tercatat aktif di Teater Kita-Kita Yogyakarta dan Teater Apa Yogyakarta.
Selama berkarya bersama Teater Gandrik, Susilo dikenal melalui karakter panggung yang kuat, kritis, sekaligus mampu menghadirkan humor yang kerap diselipi kritik sosial. Gaya tersebut menjadi ciri khasnya dalam menyampaikan berbagai persoalan kehidupan masyarakat melalui seni pertunjukan.
Perjalanan Susilo di dunia seni telah dimulai sejak masih duduk di bangku SLTA, tepatnya pada 1977. Dari dunia teater, ia kemudian menjelajah berbagai bentuk seni pertunjukan lainnya, mulai dari ketoprak, lawak atau dagelan, sinetron, hingga menjadi presenter dan moderator.
Puluhan tahun berkarya membuat nama Susilo Nugroho tidak bisa dilepaskan dari perjalanan seni pertunjukan Yogyakarta. Karakter Den Baguse Ngarsa bahkan telah menjadi bagian dari ingatan masyarakat dan turut memberi warna tersendiri bagi kebudayaan Yogyakarta.
Kepergian Susilo Nugroho pun meninggalkan jejak panjang dalam perjalanan kesenian di Yogyakarta. Sosoknya sebagai seniman dengan karakter panggung yang kuat, humor khas, serta keberanian menyampaikan kritik sosial melalui seni akan menjadi bagian dari catatan perjalanan budaya Yogyakarta.


0 Komentar