Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 20.30 WIB di wilayah perbatasan Nglindur–Semampir.
Berdasarkan keterangan korban, saat itu ia keluar rumah untuk mengikuti takbir keliling. Namun karena rombongan anaknya tertinggal, ia berhenti di sekitar lokasi yang tengah terjadi ketegangan antar warga.
Alih-alih terlibat, WB justru mengklaim berupaya menenangkan situasi. Ia bahkan sempat diminta aparat setempat untuk membantu mengondisikan massa agar tidak terjadi bentrokan lanjutan. WB juga mengaku sempat berkoordinasi dengan Kapolsek setempat guna meminta pengawalan terhadap rombongan warga Nglindur.
“Sudah saya sampaikan ke kedua pihak agar kondusif. Bahkan saya kembali ke lokasi untuk memastikan tidak ada gesekan lagi,” ungkapnya.
Namun situasi justru berbalik. WB tiba-tiba dituding sebagai provokator oleh salah satu pihak. Tuduhan tersebut memicu emosi massa hingga berujung aksi pengeroyokan.
Korban mengaku dipukul dan diinjak oleh sejumlah orang. Akibat kejadian itu, ia mengalami luka serius, di antaranya satu gigi copot, luka di pelipis, siku, lutut, serta memar di bagian pinggang dan paha.
Tak hanya WB, rekannya Lambang Nugroho yang berusaha menolong juga menjadi sasaran kekerasan. Hingga kini, Lambang disebut masih mengalami trauma fisik dan belum dapat beraktivitas seperti biasa akibat luka memar di tubuhnya.
Kasus ini telah dilaporkan secara resmi ke Polres Gunungkidul pada Jumat (20/03/2026). Tiga orang berinisial SPT, WHN, dan TGN, warga Semugih, Kapanewon Rongkop, dilaporkan terkait dugaan pengeroyokan tersebut.
Peristiwa ini memunculkan pertanyaan serius terkait pengamanan malam takbiran di wilayah tersebut. Upaya mediasi yang seharusnya diapresiasi justru berujung kekerasan. Aparat penegak hukum didesak bertindak tegas dan transparan untuk mengungkap pelaku serta memastikan kejadian serupa tidak terulang.


0 Komentar