Link Banner

Pembukaan Sarasehan Paceklik Culture Festival Tahun 2020 Dilakukan Secara Virtual

Seni, Jamu (Jampi) Paceklik di Masa Pageblug

PANGGANG (Wartahandayani.com)_Sebagai awal rangkaian kegiatan Paceklik Culture Festival II, seusai pembukaan dilanjutkan dengan sarasehan budaya virtual. Tema yang diusung adalah “Jamunya Rakyat Kecil di tengah Pandemi”. Sarasehan ini menghadirkan beberapa pembicara dari beberapa latarbelakang berbeda. Minggu 04/10/2020

Pembicara pertama adalah Cahyo Prabowo, seorang penulis dan pegiat @gunungkidulbisaapa; kemudian dari kalangan seniman adalah Budi Pramono, seorang komposer musik dan karawitan yang juga dikenal khalayak dengan nama alias, Budi Pècè; lalu menghadirkan kalangan budayawan, akademisi sekaligus rohaniawan, Dr. G. Budi Subanar, S.J. yang kini masih menjabat sebagai Direktur Pascasarjana Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Selain itu, sarasehan juga menghadirkan Syamsul Hadi, S.H.,M.M., Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI, mewakili pihak pemerintah.

 Bincang-bincang santai dan hangat tersebut dimoderatori oleh seorang seniman dan aktor, alumni program Magister Ilmu Religi dan  Budaya Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, beliau adalah Rendra Bagus Pamungkas.  

Diskusi yang dibawakan dalam suasana santai ini ingin mendialogkan bagaimana kebudayaan, melalui proses kreatif berkesenian menjadi salah satu oase yang menyegarkan sebagai jampi di masa pageblug seperti sekarang ini. Banyak hal yang dipaparkan oleh para pembicara yang menarik kemudian dapat ditarik kembali dan dicecapi lebih mendalam. Seperti di antaranya mengenai dialog antara seni sebagai kebutuhan ekspresi batiniah seniman yang di lain sisi juga menjadi kebutuhan untuk bisa melangsungkan hidup bagi seniman. Ketika pageblug (pandemik covid-19) melanda, praktis kehidupan berkesenian melalui panggung-panggung terhenti dan batal. Mata pencaharian seniman yang hidup dari aktifitas kesenian terdampak hebat. Hal ini menurut Budi Pramono, yang seorang kelahiran Nglipar Gunungkidul, harus disikapi dengan kritis. Seni memang sebuah ruang untuk mengekspresikan kebutuhan batiniah seniman, namun ketika di sisi lain seni juga menjadi kebutuhan untuk melangsunkan hidup, rasanya tidak mungkin jika seniman sekadar menunggu keadaan untuk beraktifitas kesenian. Seniman tidak butuh bantuan, tapi seniman butuh pekerjaan. Justru karena seni adalah ruang ekspresi, maka seniman dituntut untuk mencari cara kreatif tetap berkespresi merespon keadaan bahkan dalam kondisi yang serba terbatas. 

Dengan kondisi yang ada saat ini, memang tak dapat dipungkiri, seniman harus akrab dengan dunia teknologi. Situasi yang tak memungkinkan diadakannya pertunjukan dengan ditonton langsung, memang menyebabkan bentuk sajian dilakukan secara virtual. Hal ini dilakukan juga untuk mendukung percepatan penekanan angka terpapar wabah lebih cepat, dengan membatasi ruang-ruang aktifitas yang menyebabkan kerumunan massa. Dengan demikian akrab teknologi adalah salah satu cara yang perlu ditempuh dan dimanfaatkan oleh seniman untuk tetap berekspresi, berkreasi, dan menghidupi kehidupannya. Meskipun sajian pertunjukan daring memiliki kelemahan, seperti keringnya semangat euforia dari respon langsung oleh penonton, namun agaknya sajian daring hingga saat ini dirasa menjadi cara respon yang baik yang perlu terus diolah oleh seniman untuk bisa tetap bertahan. Paceklik Festival yang kini diselenggarakan daring, menjadi semakin menarik untuk didialogkan terus menerus. Kemudian, seni sebagai jamu, akan menjadi jamu jika dikembalikan kepada diri masing-masing. Menurut Budi Pramono,  jamu pandemi adalah dari kita sendiri bagaimana kita mengolah kreativitas. Seniman mampu punya cara dan mampu mengekspresikan apa yang dia inginkan.

Pernyataan Budi Pramono seturut dan memiliki irisan dengan pendapat yang disampaikan oleh Cahyo Prabowo sebelumnya. Untuk dapat berdaya guna, maka sudah saatnya kini seniman dan masyarakat pegiat budaya melek atau sadar akan pemanfaatan teknologi. Sebab dengan teknologi, hal yang tidak mungkin terbayangkan sebelumnya menjadi mungkin dan terjamah. Sebagai contoh, pemilihan diksi: “Paceklik” dalam Paceklik Culture Festival, diharapkan bukan sekadar ingatan sejarah yang meninggalkan daya dorong untuk agar tidak terjadi paceklik-paceklik dalam artian kerawanan pangan selanjutnya. Gunungkidul punya alam yang luar biasa kaya. Pantai dan keindahan potensi alamnya membuat kita sangat kuat hari ini. Ketekunan, keramahan, dan soliditas sosial masyarakatnya telah merobohkan batu-batu keras menjadi karya-karya yang hebat. Yang penting menurutnya adalah, bagaimana paceklik jadi ikon besar kemudian ada ikonisasi produk-produk atau karya yang dihasilkan. Kadang kita lupa, karya besarnya apa? Ikonisasi menjadi penting guna melahirkan  “karya baru” untuk melukiskan dan mengkisahkan Gunungkidul terus menerus. Merayakan Paceklik sebagai bahan untuk memperkaya wawasan bersama membangun Gunungkidul agar masyarakat lebih dapat merasakan kesegaran angin dari kreativitas dan karya bersama, yang tentunya dalam hal ini dirasakan dampaknya dalam pemajuan ekonomi kreatif masyarakatnya.

Syamsul Hadi, S.H., M.M., sebagai wakil dari Dirjen Kebudayaan sangat mengapresiasi dan menyatakan dukungan pemerintah terhadap gerakan-gerakan dan aktivitas pemajuan kebudayaan dari desa. Dukungan itu diperkuat dengan Undang-Undang pemajuan desa sangat jelas dalam rangka mengupayakan pemajuan desa dalam bidang seni sastra dan seni pertunjukan. Pemerintah dalam hal ini Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Dirjen Kebudayaan mendorong upaya-upaya kearifan lokal di desa-desa sesuai amanat UUD 1945, secara jelas negara memajukan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia. Hal ini diwujudkan dengan adanya banyak program yang baru-baru ini telah dan sedang digulirkan seperti di antaranya program Fasilitasi Bantuan Kebudayaan yang dapat diakses oleh seluruh masyarakat seniman, maupun pegiat kebudayaan. 

Sejak pandemi, paceklik seolah kembali ada. Semua agenda kesenian dan kebudayaan tertuda dan bahkan batal. Maka pemerintah mewujudkan dukungan serta dorongannya dengan mengapresiasi dan memberikan ruang-ruang aktifitas kreatif melalui beberapa program yang bukan semata-mata dilakukan sebagai bantuan. Di antaranya dengan borang-borang, yang diikuti oleh seniman dan pelaku budaya untuk ikut aktif melalui pemanfaatan teknologi daring. Mereka melakukan pendaftaran, pendataan, kemudian merekam konten kreatif mereka dari rumah. Merespon seperti apa yang diungkapkan oleh Budi Pramono, bahwa: “Seniman tidak butuh bantuan tapi butuh pekerjaan”, ruang-ruang pekerjaan ini diupayakan oleh Dirjen Kebudayaan melalui beberapa program apresiasi dan fasilitasi. 

Menyambung penjelasan Syamsul Hadi, Romo Banar, panggilan akrab Dr. G. Budi Subanar, SJ., menyinggung bahwasanya Festival Paceklik adalah sebuah pengalaman dan kehadiran langsung Undang-Undang pemajuan desa dan kebudayaan desa, yang awalnya hanya tertuang sebagai teks tertulis kemudian menjadi pengalaman konkrit. Seperti halnya sapaan bebunyian oleh Karawitan Gita Laras di awal sebelum acara dimulai. Mereka menyajikan repertoar gendhing, di antaranya adalah Ladrang Tebu Sauyun yang dapat di artikan mantabnya kegotong-royongan, kemudian Ketawang Puspawarna Laras Slendro Pathet Manyura, sebagai sapaan yang menyejukkan, menghadirkan pengalaman konkrit agar tetap terjaga kewarasan nalar rasa para pendengar. Hal ini perlu diyakini, bebunyian karawitan yang lembut itu, bahkan telah sejak lama diakui dunia mampu menyapa alam semesta raya. Sebagaimana yang terjadi lebih 40 tahun lalu, Voyager membawa rekaman Puspawarna menyandingkannya dengan karya-karya klasik komposer dunia untuk dikumandangkan di luar angkasa, melalui penghadiran pengalaman bunyi-bunyian karawitan.

 Hariyanto

Posting Komentar

0 Komentar