Gunungkidul Jadi Tuan Rumah Apel Besar Hari Pramuka ke-65 DIY, Sri Sultan Soroti Ketahanan Pangan


Wonosari, (Wartahandayani.com)_Kabupaten Gunungkidul menjadi tuan rumah Apel Besar Peringatan Hari Pramuka ke-65 tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tahun 2026. Kegiatan tersebut diikuti sebanyak 6.610 peserta dan dipimpin langsung Gubernur DIY sekaligus Ketua Majelis Pembimbing Daerah (Mabida) Gerakan Pramuka DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, di lapangan alun alun Pemda Kabupaten Gunungkidul, Sabtu (22/8/2026) pagi.

Rangkaian kegiatan berlangsung tertib. Acara diawali Pawai Budaya Pramuka Gunungkidul yang melibatkan 18 Kapanewon atau Kwartir Ranting (Kwarran), sekaligus peresmian Bazar Pramuka Kreatif Gunungkidul.

Bazar tersebut menampilkan berbagai produk UMKM binaan Kwarran, makanan khas Gunungkidul seperti gatot, tiwul dan keripik, hingga kerajinan tangan. Selain itu, terdapat stan Saka/Sako yang menyajikan edukasi interaktif sesuai bidang kesakaan serta stan kreatif yang menampilkan karya kewirausahaan dan teknologi tepat guna.

Dari total peserta, sebanyak 5.000 merupakan peserta didik. Kegiatan juga diikuti 540 perwakilan Kwartir Ranting, jajaran Kwarda dan Kwarcab se-DIY, serta peserta Jambore Nasional.
Suasana apel semakin meriah dengan penampilan Drumband Gita Buana Smakadano dan 420 penari Pentul Tembem.

Dalam kegiatan tersebut, turut dilakukan penyerahan simbolis 500 bibit tanaman nangka dan sengon untuk lima kabupaten dan kota di DIY. Sebagian bibit juga dialokasikan untuk wilayah Kapanewon Rongkop, Wonosari dan Panggang.

Selain itu, sebanyak 40 penghargaan Anggota Gerakan Pramuka Tahun 2026 diserahkan. Penghargaan tersebut berupa Lencana Melati, Lencana Dharma Bakti dan Lencana Teladan.

Dari penghargaan tersebut, Gunungkidul menjadi daerah dengan perolehan terbanyak, yakni 27 penghargaan. Berikutnya Bantul lima penghargaan, Kulon Progo empat penghargaan, sedangkan Kwartir Daerah memperoleh dua penghargaan.

Dalam amanatnya, Sri Sultan Hamengku Buwono X menyoroti kondisi alam Gunungkidul yang selama ini menempa masyarakat untuk memiliki daya tahan dalam menghadapi keterbatasan.

"Kita berhimpun hari ini, di bumi Gunungkidul. Tanah yang mengajarkan keteguhan. Batu karst, musim kemarau panjang, keterbatasan air, telah menjadi guru bagi masyarakatnya. Dari tanah seperti inilah manusia belajar, bahwa daya tahan tidak lahir dari kelimpahan, melainkan dari ketekunan mengubah keterbatasan menjadi kekuatan," ujar Sri Sultan.

Menurut Sri Sultan, nilai ketangguhan tersebut dapat menjadi modal bagi Gerakan Pramuka untuk mengambil peran dalam penguatan ketahanan pangan masyarakat melalui Lumbung Mataraman.

Ia mengingatkan kembali ajaran leluhur Mataram mengenai kemandirian pangan.

"Leluhur kita di tanah Mataram, hidup dengan laku yang sederhana: mangan apa sing ditandur, nandur apa sing dipangan. Makan apa yang ditanam, menanam apa yang dimakan. Bukan semboyan kosong. Itu adalah tata hidup yang membuat keluarga tidak bergantung pada apa yang jauh, dan tidak resah oleh apa yang tak pasti," lanjutnya.

Pesan tersebut dinilai relevan dengan kondisi masyarakat saat ini, terutama dalam menghadapi berbagai tantangan yang dapat memengaruhi ketersediaan pangan.

Posting Komentar

0 Komentar