Adalah Subarno, yang akrab disapa Mbah Barno, pengusaha joglo setempat, yang memilih tak menunggu janji pembangunan. Pada Jumat (20/02), ia memulai pengecoran jalan kampung secara mandiri demi kepentingan warga sekitar.
Tak tanggung-tanggung, sebanyak enam mobil molen dikerahkan dalam proses pengecoran tersebut. Biaya yang digelontorkan ditaksir mencapai sedikitnya Rp 28,8 juta. Angka yang tidak kecil untuk ukuran proyek swadaya pribadi.
Klik :https://www.instagram.com/reel/DU-K_c7EiQG/?igsh=MWU0a21jZDZ2eDhxcw==
Belum berhenti di situ, Mbah Barno juga menyiapkan tambahan material berupa tiga truk dump pasir dan semen untuk melanjutkan pengecoran hingga tuntas. Semua dilakukan tanpa mengandalkan bantuan anggaran pemerintah.
"Saat ini yang terealisasi sekitar 140 meter ruas jalan sudah kita cor,untuk selanjutnya akan masih kita kerjakan secara manual "ucapnya
Langkah ini menuai apresiasi warga. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan mendasar: mengapa akses jalan lingkungan yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat harus diperbaiki oleh seorang warga dengan dana pribadi?
Klik juga :https://vt.tiktok.com/ZSm5XNjrF/
Jalan kampung bukan sekadar infrastruktur biasa. Ia menjadi urat nadi aktivitas warga, mulai dari mobilitas ekonomi, pendidikan, hingga layanan darurat. Ketika perbaikan harus ditopang individu, hal ini menjadi refleksi serius terhadap prioritas pembangunan di tingkat kalurahan maupun kabupaten.
Mbah Barno sendiri berharap apa yang ia lakukan dapat memberi manfaat nyata bagi masyarakat sekitar.
“Saya hanya ingin jalan ini bisa dipakai nyaman oleh warga. Semoga bermanfaat,” ujarnya singkat.
Aksi swadaya ini patut diapresiasi sebagai bentuk kepedulian sosial. Namun lebih dari itu, peristiwa ini menjadi tamparan halus bagi pemangku kebijakan agar pembangunan infrastruktur dasar tidak terus bergantung pada kedermawanan warga.


0 Komentar