Karangmojo, (Wartahandayani.com)_Panen Raya Nangka di Hutan Wanaboga, Kalurahan Jatiayu, Kapanewon Karangmojo, Sabtu (3/10/2026), menjadi momentum penting dalam pengembangan tanaman produktif sekaligus upaya memperkuat ketahanan pangan di Gunungkidul dan Daerah Istimewa Yogyakarta.Bukan sekadar seremoni memetik hasil tanaman, panen raya tersebut menjadi penanda bahwa lahan seluas 87 hektare di kawasan Hutan Wanaboga Jatiayu kini telah ditanami sekitar 400 ribu pohon nangka.
Pengembangan kawasan tersebut diharapkan mampu memberikan manfaat berkelanjutan, mulai dari pemenuhan bahan baku gudeg, penghijauan, penyediaan sumber pangan, hingga peningkatan pendapatan masyarakat dan petani yang terlibat di dalamnya.
Kegiatan yang berlangsung sekitar pukul 10.00 WIB itu merupakan kolaborasi Pertamina, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY.
Panen raya juga menjadi momentum untuk melihat secara langsung hasil penanaman nangka yang dilakukan di kawasan Hutan Wanaboga Jatiayu, sekaligus memperkuat komitmen pengembangan lahan produktif di wilayah Gunungkidul.
Di balik kegiatan tersebut, terdapat dukungan besar dari Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, berupa pemanfaatan Tanah Milik Kraton atau Sultan Ground (SG) di kawasan Gunungkidul untuk pengembangan tanaman nangka dan tanaman produktif lainnya.
Pemanfaatan lahan tersebut diharapkan dapat mendorong pengembangan nangka secara lebih luas sehingga Gunungkidul mampu menjadi salah satu sentra pemasok bahan baku untuk kebutuhan gudeg di DIY maupun daerah lainnya.
Komisaris PT Pertamina (Persero), Nanik S Deyang, mengatakan kebutuhan nangka sebagai bahan baku gudeg di DIY selama ini masih lebih besar dibandingkan produksi yang tersedia.
Menurutnya, kebutuhan nangka untuk bahan baku gudeg mencapai sekitar 6 ton, sementara produksi nangka di DIY baru sekitar 2 ton.
Kondisi tersebut membuat pelaku usaha gudeg harus mencari pasokan nangka hingga ke luar daerah untuk memenuhi kebutuhan.
“Selama ini Jogja sebagai Kota Gudeg sangat tergantung pasokan nangka dari luar daerah. Kebutuhan nangka untuk gudeg sebanyak 6 ton, sedangkan di DIY hanya ada nangka 2 ton,” kata Nanik.
Dengan pengembangan tanaman nangka secara masif di Gunungkidul, kebutuhan bahan baku gudeg diharapkan secara bertahap dapat dipenuhi dari daerah sendiri.
Bahkan, apabila produksi terus berkembang, hasil dari kawasan tersebut diharapkan mampu memasok kebutuhan ribuan warung gudeg di DIY hingga pasar di berbagai daerah di Indonesia.
Penanaman sekitar 400 ribu pohon nangka di lahan seluas 87 hektare di Jatiayu pun diharapkan menjadi salah satu fondasi untuk mewujudkan kemandirian pasokan bahan baku gudeg.
“Harapannya, kebutuhan bahan baku gudeg tidak lagi sepenuhnya bergantung dari luar daerah. Gunungkidul memiliki lahan yang luas dan masyarakat yang mampu mengelolanya,” harapnya.
Meski memiliki potensi besar, pengembangan tanaman produktif di Gunungkidul bukan tanpa tantangan.
Salah satu persoalan utama adalah ketersediaan air. Karakteristik wilayah Gunungkidul yang didominasi kawasan karst membuat air relatif cepat meresap dan sulit bertahan di permukaan.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat dalam mengembangkan pertanian secara berkelanjutan, terlebih ketika menghadapi musim kemarau panjang.
Namun, warga Jatiayu telah menunjukkan bahwa keterbatasan air bukan berarti lahan tidak bisa dibuat produktif.
Ratusan ribu pohon nangka berhasil ditanam dan dirawat di kawasan tersebut. Keberhasilan itu kemudian mendorong Pertamina untuk memberikan dukungan jangka panjang dalam penyediaan sumber air.
Nanik mengatakan Pertamina melalui Danantara Indonesia sebagai mitra utama akan mendukung pembangunan Sumur Bor Dalam atau Deep Well yang dilengkapi pompa tenaga surya di kawasan Hutan Wanaboga Jatiayu.
“Kami dari Pertamina tidak hanya mau panen raya saja. Kami melihat perjuangan warga di sini luar biasa, menanam nangka di lahan yang susah air. Ke depan, Pertamina akan mendukung penuh dengan membangun Sumur Bor Dalam (Deep Well) dengan pompa tenaga surya di area Hutan Wanaboga Jatiayu ini,” ungkap Nanik.
Keberadaan sumber air tersebut diharapkan mampu menjaga keberlangsungan tanaman nangka, terutama saat musim kemarau.
Dengan pasokan air yang lebih terjamin, pohon nangka diharapkan dapat tumbuh lebih optimal, bertahan pada musim kering, dan menghasilkan buah secara lebih produktif.
Dukungan sumber air juga membuka peluang baru bagi petani. Lahan di sekitar maupun di bawah pohon nangka nantinya dapat dimanfaatkan untuk sistem pertanian tumpang sari.
Berbagai tanaman produktif seperti cabai, terong, jahe, kunyit, serta berbagai jenis palawija dapat dikembangkan sesuai kondisi lahan.
Dengan pola tersebut, lahan seluas 87 hektare tidak hanya menghasilkan nangka, tetapi juga dapat menjadi ruang produksi berbagai komoditas pertanian yang memiliki nilai ekonomi.
Petani pun berpeluang memperoleh pendapatan dari beberapa sumber sekaligus.
Selama proses penanaman, masyarakat yang terlibat juga mendapatkan upah. Ke depan, setelah tanaman berkembang dan produksi mulai meningkat, petani diharapkan dapat memperoleh manfaat dari hasil panen nangka sekaligus tanaman tumpang sari.
Program penanaman sekitar 400 ribu pohon nangka di lahan seluas 87 hektare tersebut menjadi semakin strategis karena melibatkan masyarakat secara langsung.
Petani tidak hanya menjadi pekerja dalam proses penanaman, tetapi juga memiliki peran penting dalam menjaga dan merawat tanaman hingga dapat menghasilkan.
Harapannya, manfaat ekonomi program tersebut dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Petani yang selama ini memperoleh upah dari kegiatan penanaman dan pemeliharaan nantinya juga diharapkan dapat menikmati hasil produksi ketika pohon-pohon nangka mulai produktif.
Selain itu, pemanfaatan lahan untuk tanaman tumpang sari dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi keluarga petani.
Semakin produktif lahan yang dikelola, semakin besar pula peluang masyarakat memperoleh manfaat ekonomi dari kawasan tersebut.
Program ini diharapkan tidak berhenti pada kegiatan penanaman dan panen raya. Keberlanjutan perawatan tanaman, ketersediaan air, pengembangan tumpang sari, hingga pemasaran hasil pertanian menjadi bagian penting agar manfaat program benar-benar dapat dirasakan masyarakat.
Pengembangan Hutan Wanaboga Jatiayu menjadi contoh kolaborasi berbagai pihak dalam mengoptimalkan lahan produktif.
Tanah Kraton menjadi ruang pengembangan, UGM berkontribusi melalui pengetahuan dan bibit, Pertamina memberikan dukungan permodalan serta rencana pembangunan sumber air, DLHK mendukung aspek legalitas dan pengelolaan kawasan, sementara masyarakat Jatiayu menjadi ujung tombak dalam proses penanaman dan perawatan.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menciptakan siklus manfaat yang berkelanjutan.
Dari lahan yang sebelumnya menghadapi persoalan keterbatasan air, kini tumbuh sekitar 400 ribu pohon nangka. Dari tanaman tersebut diharapkan lahir pasokan bahan baku gudeg, peluang tumpang sari, lapangan penghasilan bagi petani, sekaligus sumber pangan bagi masyarakat.
Panen Raya Nangka di Hutan Wanaboga Jatiayu akhirnya membawa pesan yang jauh lebih besar dari sekadar keberhasilan memanen buah.
Lahan seluas 87 hektare dengan sekitar 400 ribu pohon nangka menjadi bagian dari harapan untuk memperkuat swasembada bahan baku gudeg, meningkatkan produktivitas lahan, dan membuka jalan bagi kesejahteraan petani Gunungkidul.

0 Komentar