Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Gunungkidul, Agung Danarto, menjelaskan bahwa pelaksanaan jamasan memiliki dasar hukum yang kuat, yakni Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2017 tentang Pemeliharaan dan Pengembangan Kebudayaan serta Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Kebudayaan Daerah.
Menurut Agung, kegiatan tersebut didanai melalui program pembinaan penghayat kepercayaan, adat, dan tradisi dalam penyelenggaraan keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta.
"Kegiatan ini bertujuan melestarikan nilai-nilai luhur budaya, menjaga kondisi fisik pusaka agar terhindar dari kerusakan akibat karat, sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai tingginya nilai budaya adiluhung yang dimiliki Gunungkidul," ujarnya.
Pada prosesi tahun ini, sebanyak enam pusaka milik Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menjalani ritual jamasan, yakni Tombak Kiai Margo Salurung, Tombak Kiai Pandoyo Panjul, Songsong Kiai Obyong, Kiai Titis, Kiai Sero, dan Kiai Supro Manis.
Pelaksanaan jamasan melibatkan Paguyuban Tosan Aji Sidoaji yang beranggotakan para Abdi Dalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Keterlibatan mereka bertujuan memastikan seluruh tahapan ritual dilaksanakan sesuai pakem dan tata cara tradisi Kasultanan Yogyakarta.
Usai pembukaan di Bangsal Sewokoprojo, rangkaian jamasan akan berlanjut di sejumlah lokasi selama Juli 2026. Kegiatan dijadwalkan berlangsung di Taman Budaya Gunungkidul pada 13 Juli, kemudian berlanjut ke berbagai kalurahan, di antaranya Jerukwudel, Pulutan, Dadapayu, Ngawu, hingga Kemadang, Kapanewon Tanjungsari, dengan agenda penutup pada 25 Juli mendatang.
Sementara itu, Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, menegaskan bahwa tosan aji seperti keris, tombak, dan pedang bukan sekadar benda pusaka, melainkan simbol kehormatan, jati diri, serta hasil karya para empu yang memadukan keahlian, doa, dan nilai-nilai spiritual.
"Jamasan bukan hanya ritual membersihkan benda pusaka, tetapi juga simbolisasi reresik diri atau pembersihan diri. Semoga hati dan jiwa kita juga ikut bersih sehingga mampu bersama-sama membangun Gunungkidul yang lebih adil dan makmur," kata Endah.


0 Komentar