Kebijakan ini menjadi langkah nyata transformasi digital dalam pengelolaan sektor pariwisata guna meningkatkan transparansi, akuntabilitas, serta optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Peluncuran sistem tersebut dilakukan langsung oleh Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, didampingi jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), perwakilan Bank Indonesia DIY, Bank BPD DIY, Bank Mandiri, serta sejumlah pihak terkait lainnya.
Dalam sambutannya, Bupati Endah mengatakan bahwa penerapan sistem pembayaran non-tunai merupakan tindak lanjut atas rekomendasi DPRD serta dukungan program Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD).
Selain bertujuan meningkatkan efisiensi pelayanan, kebijakan ini juga diharapkan mampu menjaga integritas petugas di lapangan.
“Kami ingin menjaga marwah para pegawai yang membidangi pendapatan asli daerah. Memegang uang tunai itu rentan dicurigai. Dengan sistem ini uang diterima secara real-time dan tercatat otomatis sehingga lebih transparan,” ujar Endah.
Menurutnya, sistem digital juga mampu mempercepat proses transaksi di pintu masuk wisata. Pengunjung hanya membutuhkan waktu sekitar empat detik untuk melakukan pembayaran menggunakan kartu elektronik maupun QRIS.
Bupati optimistis penerapan sistem cashless dapat mendorong peningkatan PAD sektor pariwisata yang tahun ini ditargetkan mencapai Rp34 miliar.
“Dengan pengawasan yang lebih baik dan sistem yang terintegrasi, kami optimis target PAD dapat tercapai bahkan melampaui,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga Gunungkidul, Antonius Hary Sukmono menjelaskan bahwa sebelum diresmikan, pihaknya telah melakukan uji coba sistem sejak 6 hingga 11 April 2026.
Dari hasil evaluasi, sekitar 80 persen wisatawan dinilai sudah siap menggunakan metode pembayaran non-tunai. Sedangkan bagi pengunjung yang belum terbiasa, khususnya kalangan lanjut usia, pemerintah telah menyiapkan solusi berupa kartu e-money.
“Pengunjung bisa membeli kartu e-money Mandiri langsung di lokasi dengan harga Rp15 ribu sesuai nilai tiket tanpa biaya tambahan kartu,” jelas Hary Sukmono.
Meski demikian, untuk sementara pengunjung yang masih ingin membayar tunai tetap diarahkan melalui pos lain yang masih menggunakan sistem hybrid atau kombinasi tunai dan non-tunai, salah satunya di jalur JJLS.
Penerapan digitalisasi retribusi wisata ini juga disebut memberikan dampak signifikan terhadap pendapatan daerah. Hingga pertengahan Mei 2026, capaian retribusi pariwisata disebut telah mencapai sekitar Rp23,8 miliar hingga Rp24 miliar. Angka tersebut melonjak tajam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya berada di kisaran Rp9,7 miliar.
Keberhasilan program pilot project di TPR Baron Utama tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, mulai dari Bank Indonesia DIY, Bank BPD DIY, Bank Mandiri, Jasa Raharja, hingga Dinas Komunikasi dan Informatika Gunungkidul.
Bank Mandiri mendukung penyediaan kartu dan perangkat e-money, sedangkan Bank BPD DIY membantu fasilitas mobil operasional serta perangkat Point of Sale (POS). Dukungan jaringan internet di kawasan wisata juga diperkuat oleh Dinas Kominfo Gunungkidul.
Di sisi lain, Sekretaris Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga Gunungkidul, Eko Nur Cahyo menambahkan bahwa pemerintah telah menyediakan berbagai alternatif pembayaran agar wisatawan lebih mudah bertransaksi.
“Salah satu layanan utama adalah pembayaran menggunakan QRIS melalui aplikasi mobile banking maupun dompet digital. Selain itu juga tersedia pembayaran menggunakan kartu uang elektronik,” ujar Eko.
Ia berharap berbagai pilihan metode pembayaran tersebut dapat mendukung terciptanya ekosistem pariwisata yang modern, praktis, dan efisien di Gunungkidul.
Pemkab Gunungkidul menargetkan sistem 100 persen cashless nantinya akan diterapkan di seluruh TPR wisata. Sedikitnya 10 TPR tambahan direncanakan mulai menggunakan sistem serupa sebelum akhir tahun 2026.
Tak hanya sektor retribusi wisata, pemerintah daerah juga mulai merancang penerapan pembayaran non-tunai di sektor lain, termasuk pengelolaan parkir kawasan wisata.

0 Komentar