Suasana khidmat dan penuh kekeluargaan mewarnai prosesi pergantian pimpinan tersebut. Kegiatan ini menjadi momentum untuk melepas AKBP Damus Asa yang mengakhiri masa tugasnya sekaligus menyambut AKBP Rosana Albertina Labobar sebagai pimpinan baru Polres Gunungkidul.
Tradisi tersebut juga menjadi simbol kesinambungan pengabdian kepolisian dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), sekaligus memperkuat komitmen pelayanan, perlindungan, dan pengayoman kepada masyarakat di wilayah Kabupaten Gunungkidul.
Dalam sambutan perpisahannya, AKBP Damus Asa menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh personel Polres Gunungkidul atas kerja sama, dedikasi, serta soliditas yang telah terbangun selama dirinya menjabat sebagai Kapolres.
Menurutnya, situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di wilayah hukum Polres Gunungkidul dapat terjaga dengan aman, tertib, dan kondusif berkat dukungan seluruh jajaran. Ia menilai keberhasilan pelaksanaan tugas kepolisian tidak terlepas dari peran serta personel yang bekerja bersama dalam menjalankan tanggung jawab masing-masing.
“Semua ini terwujud atas kerja sama dan dedikasi seluruh personel Polres Gunungkidul. Saya memang meninggalkan Polres Gunungkidul, tetapi saya tidak pernah meninggalkan tali persaudaraan di antara kita. Saya titip dan mohon berikan dukungan terbaik sebagaimana yang rekan-rekan berikan kepada saya kepada Kapolres Gunungkidul yang baru,” pesan AKBP Damus Asa.
Ia berharap semangat kebersamaan, loyalitas, dan pengabdian yang selama ini terpelihara dapat terus dipertahankan di bawah kepemimpinan yang baru.
Bagi AKBP Damus Asa, dukungan seluruh personel merupakan modal penting untuk menjaga kesinambungan pelaksanaan tugas kepolisian. Ia juga berharap jajaran Polres Gunungkidul tetap solid dalam menghadapi berbagai tantangan serta mampu memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.
Sementara itu, Kapolres Gunungkidul yang baru, AKBP Rosana Albertina Labobar, mengawali kepemimpinannya dengan memperkenalkan diri kepada seluruh jajaran. Ia juga menyampaikan komitmennya untuk meneruskan berbagai program dan kebijakan positif yang telah dirintis oleh pimpinan sebelumnya.
Dalam menjalankan tugasnya, AKBP Rosana menekankan pentingnya membangun semangat pengabdian yang berlandaskan nilai-nilai luhur dan kearifan lokal masyarakat Jawa, khususnya masyarakat Gunungkidul.
Menurutnya, nilai-nilai budaya lokal dapat menjadi landasan dalam membangun hubungan yang lebih dekat antara kepolisian dan masyarakat. Dengan memahami karakter, budaya, serta kebutuhan warga, pelaksanaan tugas kepolisian diharapkan semakin humanis, responsif, dan mampu memberikan manfaat nyata.
Ia juga menegaskan bahwa pendekatan tersebut sejalan dengan arahan pimpinan Polri untuk memperkuat hubungan antara polisi dan masyarakat.
“Saya bertekad membangun semangat pengabdian yang berakar pada nilai-nilai luhur masyarakat Jawa, khususnya Gunungkidul, secara berkesinambungan. Ini juga sebagai implementasi instruksi Bapak Kapolri dan Kapolda tentang Polisi Bersama Masyarakat,” tegas AKBP Rosana.
Komitmen tersebut menjadi bagian dari upaya membangun pola kerja kepolisian yang tidak hanya berfokus pada penegakan hukum, tetapi juga mengedepankan komunikasi, kepedulian, dan kehadiran polisi di tengah kehidupan masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, kepolisian diharapkan dapat semakin memahami persoalan yang dihadapi warga, memberikan respons secara tepat, serta membangun kepercayaan publik melalui pelayanan yang profesional dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.
Salah satu hal yang diperkenalkan AKBP Rosana dalam mengawali kepemimpinannya adalah filosofi kerja Polres Gunungkidul, yakni “Ngopeni”, yang merupakan singkatan dari Ngerti, Ngayomi, Ngabdi.
Filosofi tersebut menjadi gambaran arah pengabdian yang ingin dibangun dalam pelaksanaan tugas kepolisian di Gunungkidul. Lebih dari sekadar slogan, Ngopeni dimaknai sebagai pendekatan pelayanan yang menempatkan kepedulian, pemahaman terhadap persoalan warga, perlindungan, serta tanggung jawab sebagai bagian penting dari tugas kepolisian.
Kata Ngerti mencerminkan pentingnya memahami kondisi, kebutuhan, dan persoalan masyarakat. Sementara Ngayomimenekankan peran kepolisian dalam memberikan perlindungan dan rasa aman. Adapun Ngabdi menjadi pengingat bahwa seluruh pelaksanaan tugas harus berorientasi pada pengabdian kepada masyarakat.
Melalui filosofi tersebut, AKBP Rosana ingin menegaskan bahwa menjaga keamanan tidak cukup hanya dilakukan melalui tindakan penegakan hukum. Kepolisian juga harus hadir untuk mendengarkan keluhan, memahami persoalan, memberikan perlindungan, dan membantu masyarakat sesuai kewenangan serta tanggung jawabnya.
“Bagi kami, konsep Ngopeni ini bukan sekadar menjaga, tetapi merawat, memperhatikan, memahami, melindungi, dan bertanggung jawab dengan sepenuh hati bagi masyarakat Gunungkidul,” pungkasnya.
Pendekatan ini diharapkan dapat memperkuat hubungan emosional dan kepercayaan antara kepolisian dengan masyarakat. Dengan komunikasi yang terbuka dan pelayanan yang mengedepankan kepedulian, berbagai persoalan kamtibmas diharapkan dapat ditangani melalui kerja sama yang lebih erat.


0 Komentar