Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Geopark Night Spekta ke-8 ini semula menargetkan 1.500 peserta. Namun, setelah dilakukan proses verifikasi oleh tim MURI, jumlah peserta yang dinyatakan sah mencapai 1.588 orang. Atas capaian tersebut, MURI menetapkannya sebagai Rekor Dunia karena dinilai mampu mengangkat budaya lokal dalam skala besar.
Ribuan peserta berasal dari berbagai unsur masyarakat, di antaranya 102 anggota Perwosi Kabupaten Gunungkidul, 900 anggota Perwosi dari 18 kapanewon, 504 anggota IGTKI dan Himpaudi, 24 personel Polwan Polres Gunungkidul, 30 anggota Komunitas Kalurahan Bobung bersama relawan, serta 14 peserta dari Omah Trengguli.
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, mengatakan Senam Kreasi Penthul Tembem merupakan bagian dari strategi pengembangan sport tourism yang dipadukan dengan pelestarian budaya lokal. Menurutnya, karakter Penthul Tembem dipilih karena mencerminkan keceriaan, kesederhanaan, dan menjadi identitas budaya masyarakat Gunungkidul yang dikemas dalam bentuk olahraga.
"Hari ini kita membuktikan bahwa kita mampu berdiri tegak dan bangga dengan budaya asli Bumi Handayani. Kita sedang mempraktikkan Trisakti Bung Karno, yaitu berkepribadian di bidang kebudayaan," ujar Endah.
Ia juga memberikan apresiasi kepada para perajin topeng di Kalurahan Bobung, Kapanewon Patuk, yang selama ini menjadi sentra pembuatan topeng Penthul Tembem dan turut menjaga kelestarian warisan budaya tersebut.
Momentum pemecahan rekor dunia ini sekaligus menjadi tonggak penting dalam perlindungan kekayaan intelektual budaya daerah. Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menerima Surat Pencatatan Ciptaan Topeng Penthul Tembem dari Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sementara itu, koreografer Senam Kreasi Penthul Tembem, Mariana Subianti, juga menerima surat pencatatan ciptaan atas koreografi senam yang diciptakannya.
Dengan adanya pencatatan tersebut, baik topeng maupun gerakan senam kini memiliki perlindungan hukum sebagai karya intelektual asli Gunungkidul.
Dalam kesempatan yang sama, Bupati Endah turut meluncurkan semboyan "Memetri Warisan Bumi Gunungkidul Handayani Bebas dari Korupsi" sebagai pengingat pentingnya membangun pemerintahan yang berintegritas serta menolak segala bentuk korupsi dan gratifikasi.
Senior Representatif MURI, Ari Andriani, mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan yang dinilainya berlangsung sangat baik. Ia menyebut kekompakan, keseragaman gerakan, dan antusiasme peserta menjadi faktor utama yang mengantarkan Gunungkidul meraih Rekor Dunia.
Menurut Ari, Gunungkidul juga merupakan salah satu daerah yang produktif mencatatkan prestasi di MURI. Sebelumnya, kabupaten ini telah membukukan sembilan rekor, termasuk lima rekor yang diprakarsai oleh Bupati terdahulu, Hj. Badingah, seperti penyajian gatot terbanyak hingga kegiatan membatik lintas generasi.
Rangkaian acara ditutup dengan penyerahan cendera mata berupa Topeng Bobung kepada tim MURI sebagai simbol kolaborasi dalam memperkenalkan budaya Gunungkidul ke tingkat internasional. Melalui pencapaian ini, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul berharap kawasan Gunung Api Purba Nglanggeran semakin dikenal sebagai destinasi sport tourism berbasis budaya yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif masyarakat.


0 Komentar