WONOSARI,(Wartahandayani.com)_Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menggelar Apel Siaga Bencana Hidrometeorologi Kekeringan Tahun 2026 di Lapangan Kasatriyan, Wonosari, Kamis (25/6/2026) pagi. Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk memastikan kesiapsiagaan seluruh unsur terkait dalam menghadapi potensi kekeringan yang diperkirakan terjadi selama musim kemarau tahun ini.

Apel siaga diikuti berbagai unsur lintas sektor, mulai dari BPBD, TNI, Polri, PDAM, Baznas, relawan kebencanaan, organisasi kemasyarakatan, hingga instansi pemerintah daerah. Kegiatan tersebut juga menjadi momentum memperkuat koordinasi dan sinergi dalam upaya penanggulangan dampak kekeringan di wilayah Gunungkidul yang selama ini dikenal rawan mengalami krisis air bersih saat musim kemarau.

Dalam kesempatan itu, Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih mengatakan bahwa Gunungkidul memiliki tingkat kerentanan yang cukup tinggi terhadap bencana kekeringan. Oleh karena itu, berbagai langkah mitigasi perlu dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari pemanfaatan sumber daya air secara efektif dan efisien, pembangunan sarana konservasi air, hingga upaya menjaga kelestarian lingkungan.

Selain ancaman kekurangan air bersih, musim kemarau juga berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Masyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati dan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran, seperti membakar sampah maupun membuka lahan dengan cara dibakar.

Pemenuhan kebutuhan air bersih bagi masyarakat menjadi salah satu fokus utama dalam penanganan kekeringan tahun ini. Untuk itu, pemerintah daerah memperkuat kerja sama dengan berbagai pihak guna memastikan distribusi bantuan air bersih dapat berjalan cepat dan tepat sasaran apabila diperlukan.

Sebagai bagian dari upaya mitigasi, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Gunungkidul turut menyalurkan bantuan berupa toren penampungan air di sejumlah wilayah yang selama ini menjadi langganan dropping air saat musim kemarau.

Penempatan toren diprioritaskan di lingkungan masjid agar mudah diakses masyarakat. Meski berada di area rumah ibadah, pemanfaatan fasilitas tersebut diperuntukkan bagi seluruh warga tanpa membedakan latar belakang agama maupun golongan.

Selain kebutuhan air bersih rumah tangga, perhatian juga diarahkan pada sektor pertanian yang kerap terdampak saat kemarau panjang. Ketersediaan air untuk irigasi menjadi salah satu aspek yang terus dipantau guna menjaga produktivitas pertanian dan ketahanan pangan daerah.